Aceh Tamiang kembali dilanda banjir luapan, kali ini disebabkan oleh jebolnya tanggul sungai di Kampung Raja, Kecamatan Bendahara. Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 1 Januari, sekitar pukul 18.00 WIB, dengan debit air yang terus meningkat hingga merendam pemukiman penduduk. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius bagi warga setempat yang belum sepenuhnya pulih dari bencana sebelumnya.
Tokoh pemuda wilayah Bendahara Hilir, M. Daud, menjelaskan bahwa insiden tanggul jebol ini memperparah kondisi Kampung Raja. Kawasan tersebut sebelumnya sudah porak-poranda akibat banjir bandang pada November 2025. Air sungai meluap ke jalan penghubung antar Kecamatan Bendahara dan Seruway, serta kembali merendam area permukiman.
Banjir susulan ini diperkirakan sebagai kiriman dari wilayah hulu sungai, menyusul hujan deras yang mengguyur pegunungan. Banyak titik tanggul sungai di pesisir Kecamatan Bendahara yang rusak akibat banjir bandang sebelumnya belum sempat diperbaiki, membuat daerah hilir rentan terhadap luapan air. Situasi ini menyoroti urgensi perbaikan infrastruktur pencegah banjir di Aceh Tamiang.
Dampak Tanggul Jebol di Kampung Raja
Jebolnya tanggul di Kampung Raja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, pada Kamis malam menyebabkan air sungai meluap dengan cepat. Air merendam kembali permukiman penduduk yang masih dalam tahap pemulihan pasca-banjir bandang November 2025. Banyak warga yang sebelumnya mengungsi di tenda-tenda darurat kini kembali merasakan dampak langsung dari luapan air.
M. Daud, tokoh pemuda setempat, mengungkapkan bahwa titik tanggul yang jebol ini berada di jalan penghubung vital antara Kecamatan Bendahara dan Seruway. Akibatnya, akses jalan terganggu dan air dengan mudah masuk ke kawasan permukiman. Kondisi ini menambah beban bagi warga yang sedang berjuang untuk bangkit dari kerusakan sebelumnya.
Banjir luapan ini tidak hanya merendam rumah, tetapi juga menghambat aktivitas sehari-hari masyarakat. Keadaan darurat ini menuntut respons cepat dari pihak berwenang untuk segera menangani perbaikan tanggul. Perbaikan tanggul menjadi krusial untuk mencegah kerugian yang lebih besar di masa mendatang bagi masyarakat Aceh Tamiang.
Akar Masalah dan Kekhawatiran Warga
Banjir susulan di Aceh Tamiang ini diyakini warga sebagai akibat dari intensitas hujan lebat di wilayah hulu sungai. Hujan deras di pegunungan menyebabkan debit air sungai meningkat drastis, sementara infrastruktur penahan banjir belum optimal. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya tanggul yang rusak akibat banjir bandang pada 26 November 2025 lalu.
M. Daud menambahkan bahwa beberapa titik tanggul sungai di pesisir Bendahara, termasuk di Kampung Raja, Lubuk Batil, dan Marlempang, mengalami kerusakan parah. Kerusakan ini belum sempat diperbaiki, meninggalkan wilayah hilir sangat rentan terhadap luapan air. Situasi ini menimbulkan kecemasan mendalam di kalangan warga setiap kali mendengar kabar hujan lebat di hulu.
Masyarakat di hilir sungai khawatir akan terus-menerus diterjang banjir jika tanggul penahan tidak segera diperbaiki. Kurangnya perbaikan tanggul pasca-banjir sebelumnya menjadi faktor utama yang membuat mereka merasa tidak aman. Prioritas perbaikan tanggul menjadi tuntutan utama untuk menjamin keselamatan dan keberlangsungan hidup warga Aceh Tamiang.
Banjir Singkat di Desa Selamat
Sementara itu, Desa Selamat di Kecamatan Tenggulun juga sempat terendam banjir pada Rabu malam, 31 Desember. Banjir di lokasi ini disebabkan oleh meluapnya sungai objek wisata pemandian Gunung Pandan. Meskipun demikian, kondisi banjir di Desa Selamat tidak berlangsung lama dan segera surut dalam hitungan jam.
Datok Penghulu (Kepala Desa) Kampung Selamat, Suherman, menjelaskan bahwa air hanya masuk hingga kawasan menara (tower) yang mengarah ke Gunung Pandan. Banjir ini murni akibat hujan deras di wilayah atas dan tidak menimbulkan korban jiwa atau memaksa warga mengungsi. Situasi di Desa Selamat menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan kondisi di Kampung Raja.
Peristiwa di Desa Selamat menjadi contoh bahwa meskipun terjadi luapan air, dampaknya bisa bervariasi tergantung pada kondisi geografis dan infrastruktur setempat. Namun, tetap menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Kewaspadaan ini sangat penting terutama di daerah yang memiliki potensi banjir seperti Aceh Tamiang.
Sumber: AntaraNews