Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan proyek revitalisasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan bisa menekan impor bensin hingga 5,8 juta kiloliter (KL) per tahun.
“Dengan tambahan produksi 5,8 juta KL, impor bensin kita tinggal 19 juta KL,” ujar Bahlil saat meresmikan proyek RDMP Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin.
Bahlil menjelaskan, kebutuhan nasional mencapai sekitar 38,5 juta KL per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 14,27 juta KL.
Kebutuhan tersebut terbagi menjadi:
- Bensin RON 90: 28,9 juta KL per tahun
- Bensin RON 92: 8,7 juta KL per tahun
- Bensin RON 95 dan 98: 650 ribu KL per tahun
Melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat meningkat hingga 5,8 juta KL per tahun. Tambahan kapasitas ini bisa menekan impor bensin RON 92, 95, dan 98 hingga 3,6 juta KL per tahun.
“Ke depan, dengan penerapan E10 kita bisa menghemat impor sampai 3,9 juta KL per tahun. Pengembangan kilang selanjutnya memungkinkan kita menghentikan impor bensin RON 92, 95, dan 98, serta mengurangi impor bensin RON 90,” jelas Bahlil.
Pemerintah menegaskan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri merupakan amanat konstitusi. Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan bahwa cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara.
Bahlil menilai penguatan dan pengembangan kilang adalah wujud tanggung jawab negara untuk menjamin pasokan energi bagi masyarakat.
Untuk mencapai kemandirian energi, pemerintah menyiapkan tiga langkah utama:
- Meningkatkan kapasitas kilang, seperti pengembangan Kilang Balikpapan.
- Diversifikasi energi, termasuk optimalisasi program biodiesel B40, untuk mengurangi ketergantungan pada solar fosil.
- Menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan energi, agar ketersediaan BBM tetap stabil.
RDMP Balikpapan memiliki fasilitas utama, yakni Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). CDU menjadi jantung kilang, sehingga kapasitas semula 260 ribu barel bisa ditingkatkan menjadi 360 ribu barel per hari. RFCC mampu mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi.
“RDMP sekarang kualitasnya sangat baik, setara Euro 5, dan bergerak menuju net zero emission,” kata Bahlil.
Proyek ini juga terintegrasi dengan dua tangki penyimpanan Lawe-lawe berkapasitas total 2 juta barel, serta Terminal BBM Tanjung Batu dengan kapasitas 125 ribu KL, yang dapat mendukung distribusi BBM ke Indonesia bagian timur.
Sumber AntaraNews.com